Politik Jadi Penyebab Perceraian di Kabupaten Sukabumi

Tingginya angka perceraian di Kabupaten Sukabumi akibat ketidakharmonisnya hubungan rumah tangga, dengan salah satu faktornya perbedaan pandangan politik. Dari pernikahan kandas sejak Januari hingga Agustus 2016 dari Pengadilan Agama Cibadak mencapai 688 kasus.

“Angka ini tidak merata setiap bulannya. Jumlah tersebut dari berbagai kasus dengan beragam alasan yang melatariranya,” jelas Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Cibadak, Ade Rinayanti  pada sukabumiupdate.com (21/9).

Bila dirinci dari total jumlah perceraian per bulan tahun 2016 ini, lanjut Ade, Januari ada 81 kasus, Februari 103 kasus, Maret 84 kasus, April 89 kasus, Mei 85 kasus, Juni 86 kasus, Juli 70 kasus dan pada bulan Agustus ada 91 kasus.

Untuk faktor penyebab retaknya hubungan suami istri dalamn rumah tangga yang berujung perceraian, mulai dari gangguan pihak ketiga sebanyak 17 kasus, tidak harmonis 382 kasus, dan yang paling mengejudkan adalah faktor perbedaan pandangan politik, ada 7 kasus.

“Saya juga kaget awalnya, tapi memang mereka (suami-istri-red) mengaku ingin bercerai karena tidak sependapat dalam pandangan politik,” tambah Ade.

Alasan lainnya ekonomi 76 kasus, kawin paksa 1 kasus, poligami tidak sehat 1 kasus, cacat biologis 1 kasus, penganiayaan 3 kasus, pasangannya dihukum 1 kasus serta alasan tidak bertanggung jawab sebanyak 199 kasus.

Setiap ajuan kasus perceraian baik pihak istri atau suami, lanjut Ade, tidak semuanya dikabulkan oleh Pengadilan Agama. “Sekitar 20 persen kasus gugatan perceraian kami berikan masukan agar tidak jadi bercerai dan Alhamdulillah tidak jadi dan mereka rujuk kembali,” tutup Ade.

Sumber: SUKABUMIUPDATE.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *